Kalianda, Mediatamnew.com. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menargetkan transformasi kawasan Dermaga Bom Kalianda sebagai pusat ekonomi baru daerah melalui Rencana Bisnis (Renbis) 2026 yang dipaparkan Perseroda Lampung Selatan Maju.
Revitalisasi kawasan pesisir tersebut diproyeksikan menjadi pengungkit utama capaian omzet hingga Rp3,4 miliar per tahun sekaligus menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp400-450 juta.
Rencana tersebut mengemuka dalam rapat Expose Renbis Tahun 2026 yang digelar di ruang rapat Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Lampung Selatan, Senin (23/2/2026).
Rapat dipimpin Asisten Bidang Ekobang, Tri Umaryani, dan dihadiri kepala perangkat daerah terkait, kepala bagian, serta Direktur dan Komisaris Perseroda Lampung Selatan Maju.
Direktur Utama Perseroda Lampung Selatan Maju, Baiquni Aka Sanjaya, menyampaikan bahwa target kinerja tahun buku 2026 disusun secara optimistis namun tetap realistis. Perseroda memproyeksikan omzet berkisar Rp2,6 hingga Rp3,4 miliar per tahun.
“Kami tidak membangun bisnis spekulatif, tetapi mengoptimalkan potensi yang sudah memiliki pasar jelas, seperti pengelolaan parkir, distribusi pangan, dan sektor pariwisata,” ujar Baiquni.
Untuk mendukung lonjakan target tersebut, Perseroda mengusulkan tambahan permodalan sekitar Rp285 juta. Dana itu akan difokuskan pada perbaikan fasilitas dasar dan infrastruktur pendukung usaha, terutama di kawasan strategis yang akan direvitalisasi.
Salah satu poin krusial dalam Renbis 2026 adalah penataan dan pengembangan kawasan Dermaga Bom Kalianda. Revitalisasi ini dirancang tidak hanya sebagai pembenahan fisik, tetapi juga sebagai transformasi fungsi kawasan menjadi ruang publik yang higienis, estetik, dan produktif secara ekonomi.
Kepala Divisi Pariwisata Perseroda Lampung Selatan Maju, Yosefh Fauzi, memaparkan konsep pengembangan melalui tiga segmen utama. Dermaga 1 akan difokuskan untuk aktivitas pelelangan ikan dan operasional SPBU nelayan pada pagi hari.
Dermaga 2 dikembangkan menjadi pusat kuliner (pujasera/food court) dengan konsep “From Sea To Table”. Sementara itu, kawasan wisata air panas dioptimalkan sebagai destinasi sore hari untuk menikmati panorama matahari terbenam.
Menurut Yosefh, penataan tersebut diharapkan mampu mendorong pelaku usaha lokal untuk lebih fokus pada olahan hasil laut serta memperkenalkan makanan khas Lampung Selatan kepada wisatawan.
“Harapan kami, para pedagang fokus pada penjualan olahan ikan dan memperkenalkan makanan khas Lampung Selatan agar wisatawan tertarik,” ujarnya.
Pemkab Lampung Selatan menegaskan bahwa keberadaan Perseroda harus didukung penuh oleh seluruh perangkat daerah. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar rencana bisnis berjalan profesional dan akuntabel.
Melalui strategi tersebut, pemerintah daerah berharap Perseroda Lampung Selatan Maju benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi lokal, menciptakan nilai tambah, sekaligus memperkuat kemandirian fiskal daerah. (Dian)






