Tulang Bawang Barat-Mediatamanew.com– Alih-alih menjadi forum penyelesaian konflik, rapat di Aula Kantor Kecamatan Tulang Bawang Udik justru berubah menjadi arena ketegangan dan kekecewaan warga.
Pertemuan antara masyarakat Tiyuh Margo Kencana dan pengelola Karaoke Diva berakhir tanpa titik temu, bahkan memunculkan tudingan serius soal ketidak netralan aparat kecamatan.
Sejak awal, warga menyampaikan sikap tegas tanpa ruang kompromi: menolak keberadaan Karaoke Diva di tengah permukiman RK 5.
Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar teknis operasional, melainkan menyangkut kenyamanan dan ketenangan hidup sehari-hari.
Dua tuntutan disuarakan secara lantang—tutup permanen atau pindahkan dari lingkungan mereka.
Namun, sikap itu justru berseberangan dengan pendekatan yang ditawarkan Camat Tulang Bawang Udik, Ashari.
Dalam forum, camat beberapa kali mengarahkan solusi pada perbaikan operasional atau “servis” tempat karaoke.
Tawaran tersebut langsung ditolak keras oleh warga.
“Ini bukan soal bangunan atau teknis. Ini soal keresahan.
Kami petani, pagi ke sawah, malam butuh istirahat. Tapi terganggu suara karaoke,” tegas salah satu warga dengan nada tinggi.
Ketegangan semakin memuncak saat seorang aparatur sipil negara (ASN), SSD, menyatakan telah melakukan penelusuran opini warga sekitar.
Ia mengklaim, berdasarkan percakapan informal saat membeli rokok, tidak ada keberatan dari masyarakat.
Pernyataan itu sontak memicu reaksi keras. Warga menilai klaim tersebut tidak berdasar serta itu bukan pungsi dia untuk mengintrogasi atau menelusuri tugasnya sebagai ASN terkecuali dia wartawan.
Warga semakin yakin bahwa pemerintah lebih memilih kepentingan perseorangan di bandingkan dengan hal layak orang banyak apakah mereka sudah bagi-bagi kueh.
“Jangan bawa nama warga kalau tidak jelas. Kami yang tinggal di sini jelas menolak,” sergah peserta rapat lainnya.
Rangkaian pernyataan dalam forum tersebut semakin memperkuat persepsi publik bahwa pemerintah kecamatan tidak berada di posisi netral.
Warga menuding aparat justru cenderung menjadi pelindung bagi keberlangsungan usaha yang mereka anggap meresahkan.
Tak ingin persoalan berlarut tanpa kepastian, masyarakat kini mendesak aparat penegak hukum di Kabupaten Tulang Bawang Barat untuk turun tangan secara tegas.
Mereka menilai mediasi yang berulang tanpa hasil hanya memperpanjang konflik tanpa solusi nyata.
Di tengah kebuntuan tersebut, muncul pertanyaan yang kini bergema di tengah masyarakat: masihkah hukum berpihak pada warga, atau justru tunduk pada kepentingan usaha?
Rapat pun ditutup tanpa kesepakatan.
Namun satu sikap tetap tak berubah—warga Tiyuh Margo Kencana bersikeras, Karaoke Diva harus ditutup atau hengkang dari lingkungan mereka.(Jhn)






