Tulang Bawang Barat–Mediatamanew.com- Musyawarah Daerah (Musda) ke-IV DPD II Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Tulang Bawang Barat bukan sekadar agenda rutin lima tahunan.
Forum ini menjadi panggung konsolidasi kekuatan sekaligus ujian awal: apakah Golkar benar-benar siap bangkit, atau hanya kembali merapikan struktur tanpa perubahan berarti.
Digelar di Pondok Pesantren Assalam, Kelurahan Daya Murni, Minggu (03/05/2026), Musda menetapkan kepengurusan baru periode 2026–2031 dengan komposisi yang memadukan wajah lama dan figur baru.
Harapan pun langsung dipasang tinggi—terutama untuk mendongkrak suara partai yang selama ini dinilai belum maksimal di Tulang Bawang Barat.
Dengan mengusung tema “Golkar Solid, Indonesia Maju”, forum tertinggi tingkat kabupaten ini semestinya menjadi titik balik. Namun realitas politik tak sesederhana slogan.
Konsolidasi internal, kepercayaan publik, hingga mesin partai di akar rumput akan menjadi penentu apakah jargon soliditas benar-benar hidup atau sekadar retorika tahunan.
Ratusan peserta hadir, mulai dari jajaran DPD I Golkar Lampung, pengurus daerah, pimpinan kecamatan, organisasi sayap, hingga unsur Forkopimda, KPU, Bawaslu, tokoh adat, dan tokoh agama. Kehadiran mereka menjadi indikator bahwa Golkar masih memiliki jejaring—meski kekuatan riilnya akan diuji di bilik suara, bukan di ruang sidang.
Agenda dibuka dengan pencanangan Gerakan Lampung Menanam (Gelam) oleh Ketua DPD I Golkar Lampung, Hanan A. Rozak.
Langkah simbolik ini mencoba menampilkan wajah partai yang peduli lingkungan. Namun publik tentu menunggu lebih dari sekadar seremoni—yakni implementasi nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dalam sidang pleno, laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya diterima tanpa gejolak berarti. Situasi yang terkesan mulus ini bisa dibaca dua arah: soliditas yang terjaga, atau minimnya evaluasi kritis terhadap kinerja masa lalu.
Nama H. Putra Jaya Umar kemudian ditetapkan sebagai calon tunggal dan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD II Golkar Tubaba periode 2026–2031.
Aklamasi memang mencerminkan kesepakatan, namun juga menyisakan pertanyaan klasik: apakah proses ini benar-benar mencerminkan demokrasi internal yang sehat, atau sekadar formalitas politik?
Struktur inti pun langsung dibentuk. Ahmad Basri (Abas Karta) dipercaya sebagai Wakil Ketua, Berto AN sebagai Sekretaris, dan Edi Ismanto sebagai Bendahara. Masuknya Berto AN sebagai wajah baru di posisi strategis menjadi sorotan.
Ia diproyeksikan membawa pendekatan manajemen modern, memperkuat koordinasi, serta merapikan tata kelola partai yang selama ini kerap menjadi titik lemah organisasi politik di daerah.
Namun tantangan yang menanti tak ringan. Sekretaris bukan hanya pengatur administrasi, melainkan motor konsolidasi. Jika gagal membangun komunikasi hingga tingkat kecamatan, maka struktur baru ini hanya akan menjadi daftar nama tanpa daya dorong elektoral.
Meski kepengurusan telah disusun, legitimasi formal masih menunggu Surat Keputusan dari DPD I Golkar Lampung. Artinya, struktur ini belum sepenuhnya “bernyawa” sebelum mendapat pengesahan resmi.
Dalam arahannya, Hanan A. Rozak menekankan pentingnya soliditas dan kedekatan dengan rakyat. Pernyataan yang terdengar normatif, namun justru di situlah letak persoalannya: hampir semua partai berbicara hal yang sama, tetapi tak semua mampu membuktikannya.
Sekretaris DPD I Golkar Lampung, Riza Mirhadi, bahkan mematok target ambisius—meraih hingga 10 kursi legislatif. Target ini bukan sekadar angka, melainkan tekanan langsung bagi kepengurusan baru untuk bekerja ekstra. Tanpa strategi yang konkret, target tersebut berpotensi menjadi beban politik alih-alih motivasi.
Ketua terpilih, Putra Jaya Umar, dalam pidato perdananya mencoba menyalakan optimisme. Ia mengajak seluruh kader bersatu dan menegaskan rencana pembangunan kantor definitif Golkar Tubaba. Sebuah langkah simbolik yang penting, namun sekali lagi, publik akan menilai dari kerja nyata, bukan sekadar rencana pembangunan fisik.
Di sisi lain, panitia pelaksana menyebut Musda berjalan sesuai aturan dan berlangsung tertib. Sementara pengurus sebelumnya menyampaikan terima kasih dan harapan agar Golkar semakin maju.
Namun di balik semua itu, satu pertanyaan besar tetap menggantung:
apakah Musda ini benar-benar menjadi titik balik kebangkitan Golkar di Tubaba, atau hanya rutinitas politik yang berakhir pada pergantian nama tanpa perubahan signifikan?
Jawabannya akan ditentukan bukan hari ini, melainkan pada Pemilu 2029—saat publik memberikan penilaian paling jujur di kotak suara.(Jhn)






